Duh, 4 pengetahuan tentang corona tersebut sering disalahartikan

December 24, 2020 by No Comments

LANGSUNG. CO. ID – Jakarta. Pandemi Covid-19 belum sudah dan kasus positif corona dalam tanah air meningkat setiap keadaan. Salah satu hal penyebab sulitnya memotong rantai penularan virus corona sebab banyak yang salah memahami mengenai pandemi Covid-19.

Tingkat kepatuhan bangsa terhadap protokol kesehatan menjadi lupa satu aspek yang perlu ditingkatkan. Meski begitu, tingkat kepatuhan rupanya juga banyak dipengaruhi oleh pengetuan masyarakat. Hal itu diketahui dibanding hasil survei yang dilakukan Awak Sinergi Mahadata Universitas Indonesia (UI) Tanggap Covid-19.

Survei online dilakukan oleh institusi survei YouGov selama 2-4 November 2020, terhadap 2. 125 responden menggunakan Systematic Random Sampling. Awak peneliti, Dr. dr. Aria Kekalih, MT dari Fakultas Kedokteran UI menyebutkan delapan pengetahuan utama tentang Covid-19 yang ditanyakan kepada umum.

Hasilnya, banyak masyarakat yang sedang salah dalam menjawab empat dibanding delapan pengetahuan tersebut. “Empat tersebut harus diantisipasi dan harus diedukasi ke masyarakat karena banyak yang menjawabnya masih tidak benar, ” ungkap Aria dalam pemaparan Awak Sinergi Mahadata UI Tanggap Covid-19, Senin (21/12/2020).

Baca juga: Simak penjelasan WHO tentang pergantian virus corona yang diperkirakan bertambah mematikan

Pada survei, masyarakat diminta untuk memilih opsi “benar”, “salah” atau “tidak tahu”. Empat pengetahuan tentang corona yang masih banyak salah, antara lain mengenai:

1. Tidak ada bukti ilmiah bahwa melakukan 3M (memakai masker, mencuci tangan serta menjaga jarak) bermanfaat.

Sebanyak 57, 2 persen responden menjawab “benar” untuk pengetahuan ini. Padahal, bermacam-macam studi telah membuktikan bahwa protokol kesehatan 3M mampu menurunkan penyebaran virus corona. Artinya, masih menjadi pekerjaan rumah banyak pihak buat terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penerapan 3M.

2. Risiko tertular Covid-19 lebih tinggi ketika berada di ruang terbuka dibandingkan kawasan tertutup.

Sebanyak 49, 3 responden persen menjawab “benar”. Pengetahuan tersebut justru berkebalikan dengan faktanya, dalam mana risiko penularan virus malah lebih tinggi di ruang mati.

“Nah ini kita harus hati-hati terkait perilaku, bukan hanya 3M, tapi juga 3R: ramai-ramai, rumpi-rumpi dan ruang tertutup, itu selalu harus dihindari, ” ungkap Aria.

3. Orang dengan diabetes (kencing manis) tidak berisiko lebih buat mengalami sakit yang berat masa terkena Covid-19.

Sebanyak 44, 8 persen responden menjawab “benar”. Real, faktanya diabetes termasuk penyakit penyerta (komorbid) terbanyak pada pasien Covid-19.

4. Penelusuran kontak adalah penyelidikan orang-orang yang melakukan kontak secara pasien dalam 1 bulan final.

Sebanyak 8, 5 persen umum menjawabnya “benar”. Padahal, penelusuran kontak adalah 14 hari terakhir. Taat Aria, miskonsepsi ini harus terus diluruskan, termasuk di momen jelang hari libur Natal dan Tahun Baru 2021.

“Masih banyak miskonsepsi mengenai penelusuran kontak, Covid-19 lebih berisiko di ruang terbuka, diabetes tidak berisiko, dan 3M, ” ucapnya.

gong2deng –>

Editor: Adi Wikanto