Menuntut baru: Antibodi pasien corona yang sembuh turun tajam dalam dua bulan

June 22, 2020 by No Comments

KONTAN. CO. ID –  BEIJING. Tingkat antibodi pada pasien virus corona yang pulih kembali mendarat tajam dalam 2-3 bulan sesudah infeksi, baik yang bergejala maupun tanpa gejala, menurut sebuah pengkajian China.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Nature Medicine pada 18 Juni lalu itu menyoroti risiko penggunaan “paspor kekebalan” virus corona serta mendukung intervensi kesehatan masyarakat dengan berkepanjangan.

Melansir Reuters , menurut para peneliti, intervensi itu, misalnya, jarak fisik dan menutup kelompok-kelompok berisiko tinggi.

Otoritas kesehatan di beberapa negara seperti Jerman memperdebatkan etika dan kepraktisan dengan memungkinkan orang yang dengan buatan tes positif antibodi untuk bergerak lebih bebas dibanding yang tak.

Baca Juga: Dokter Italia: Virus corona sudah melemah dari harimau menjadi kucing liar

Penelitian, yang mempelajari 37 penderita dengan gejala dan 37 pasien tanpa gejala, menemukan, di jarang mereka yang positif terhadap kehadiran antibodi IgG, lebih dari 90% mengalami penurunan tajam dalam 2-3 bulan.

Persentase penurunan antibodi sama lebih dari 70% untuk pasien yang bergejala dan tidak bergejala. Info saja, IgG adalah lupa satu jenis utama dari antibodi yang diinduksi setelah infeksi virus corona.

Studi tersebut dilakukan sebab para peneliti dari Universitas Kedokteran Chongqing, cabang dari Pusat Pengoperasian dan Pencegahan Penyakit China, serta lembaga lainnya.

Jin Dong-Yan, guru besar virologi dari Universitas Hong Kong yang bukan bagian dari ikatan penelitian itu, mengatakan, studi itu tidak meniadakan kemungkinan bagian lain dari sistem kekebalan tubuh mampu menawarkan perlindungan.

Mengaji Juga: Ini pasal virus corona lebih mudah ditularkan oleh tetesan air liur

Menurut nya, beberapa organ menghafal, bagaimana mengatasi virus ketika pertama kali terinfeksi dan sanggup mengumpulkan perlindungan yang efektif kalau ada infeksi putaran kedua.  

Para ilmuwan masih menyelidiki, apakah mekanisme ini bekerja untuk virus corona baru. “Temuan dalam tulisan itu tidak berarti langit hancur, ” katanya kepada Reuters, karena jumlah pasien yang diteliti sedikit.

gong2deng –>

Editor: S. S. Kurniawan